Sunday, 17 November 2013

Derita Guru SD





















Hari pertama menjadi anak kelas 5 SD.Gue degdegan untuk masuk di kelas baru. Karena yang ada dipikiran gue yaitu disetiap naik kelas, pasti level kegalakan guru pengajarnya juga meningkat. Ketakutan gue semakin menjadi-jadi saat ayah berkata dengan nada tegas.

“Eh ky, ati-ati lho biasanya guru kelas 5 SD itu tua tapi galak” Kata ayah dengan kumis yang bergetar dan mulut yang komat-kamit.

“Hah, seriusan yah?” Jawab gue semakin ketakutan.

“Iya serius, dulu sewaktu ayah SD juga begitu” Kumis ayah semakin bergetar.

*gue beranjak meninggalkan ayah*

Gue galau di kamar, dan mulai membayangkan hal-hal aneh yang bakal terjadi dengan gue besok di kelas baru dan guru baru tentunya. Gue membayangkan sosok guru yang di ceritakan ayah tadi. Ciri-cirinya sebagai berikut

> Tua, galak, matanya 2, pake kaca dengan tebal kaca 6cm, suka bawa penggaris <

Udah kalian bayangin belum? Ngeri nggak?

Malam itu gue nggak bisa tidur, baru beberapa menit memejamkan mata pasti melek lagi. Gue mencoba merubah gaya tidur gue waktu itu gue tidur dengan gaya terlentang, gue ubah menjadi sikap lilin eh malah pinggang gue sakit, kepala gue pusing. Fix waktu tidur gue habis hanya untuk hal tidak berbobot seperti gonta-ganti gaya tidur. Jam dinding sudah menunjukan pukul 1 malam, namun gue belum juga bisa tidur. Gue gelisah, memikirkan hari pertama memasuki ruang kelas 5 SD. Akhirnya, tepat pukul 2 pagi gue bisa tidur. Selang beberapa jam, sekitar jam 5 pagi gue udah di suruh bangun sama ibu. Gue harus sholat subuh dulu.

Tepat pukul 6 pagi, gue mengeluarkan sepeda dan menuju ke sekolah dengan sangat elegan untuk ukuran fashion anak kelas 5 SD. Gue memakai sepatu warna hitam dengan sedikit corak putih di samping, dipadukan dengan kaos kaki bergambar power rangers, dan topi SD berwarna merah. Gue merasa trendy pagi itu.

Sesampainya di sekolahan, gue langsung memarkirkan sepeda di tempat biasanya gue memarkirkan sepeda 
--____--

*Gue menginjakan kaki untuk pertama kalinya di ruang kelas 5, suasana pagi itu hening sekali*

Seusai meletakan tas di meja paling belakang dan paling pojok, gue keluar kelas untuk melihat pemandangan. Iya pemandangan cewek-cewek yang masih FRESH di pagi hari dan berubah menjadi KUMEL di siang hari. Gue melihat ada Dina, cewek inceran gue waktu itu.

“Pagi dina” Sap ague dengan wajah sok imut

“Pagi juga eky” jawab dina dengan sangat ceria

*Gue terbang ke langit ke 7 sambil nyium alien*

Gila, rasanya di sapa balik sama cewek inceran waktu SD itu bikin jantung berdetak 8x lebih cepat.

*bel masuk berbunyi dengan indahnya*

Gue dan teman-teman yang lain masuk ke kelas dengan wajah yang kumel karena sama-sama membayangkan sosok guru pengajar baru. Kami duduk di bangku masing-masing dengan agak gemetar. Gue duduk di paling belakang dan paling pojok. Konon, posisi ini sangat keramat dan jarang terlihat oleh pandangan inframerah para guru.

*Jeng-jeng guru masuk dengan sangat komedi*

Dia masuk dengan wajah mirip nenek gayung, dan berjalan seperti komeng --____-- #Absurd banget lah pokoknya. Sontak gue dan teman-teman satu kelas NGAKAK!!!! Wahahahaahahahah

“Selamat pagi anak-anak” Sapa guru berwajah nenek gayung itu.

“Pagiiiiii buuuuuu” Jawab gue + teman-teman semangat.

“Hari ini adalah hari pertama kalian menjadi anak kelas 5 SD” Nenek gayung ngomong gitu.

“Iya terus bu?” Jawab salah satu teman gue.

“Bagaimana perasaan kalian?” Nenek gayung ngomong LAGI

“Biasa aja sih bu!” Jawab gue dengan nada agak nyeleneh.

*1 kelas hening*

“Siapa itu yang ngomong?” Tanya nenek gayung.

“EKYYYYYYYYYY” Satu kelas berteriak.

*jeng-jeng gue gondok setengah mati*

“Eky, sini kamu maju ke depan kelas”

“Iya bu!”

Setelah gue maju ke depan kelas, gue dikerjain sama guru kampret itu. Gue disuruh menyanyi. Gue merasa kotor sekali waktu itu. Semenjak kejadian itu gue dan teman-teman gue berencana untuk mengkudeta guru tersebut. Nha, penderitaan guru tersebut dimulai.

Pagi itu, kami komplotan cowok berencana membolos sampai jam istirahat. Kami membolos dan mengisi waktu di rental PS di depan sekolah. Itu juga menjadi pengalaman kotor gue untuk pertama kalinya. Dari jam 7 pagi, sampai jam 9 pagi kami ber 14 anak membolos bersama.

*Teng-teng bel sekolah tanda istirahat terdengar*

Dengan jantung yang berdegup kencang, dan kepasrahan diri menerima hukuman. Kami berbondong-bondong memasuki area sekolah. Benar saja, sesampainya di depan sekolah kami sudah di hadang oleh si.nenek gayung dan ibu.kepala sekolah dengan muka siap untuk mencabik-cabik tubuh kami.

“Heh! Dari mana saja kalian?” Bentak ibu.kepala sekolah.

“Ma..ma..main bu” jawab Adi, dengan nada penuh penyesalan.

“Ayo, sekarang kalian semua ikut saya ke ruang kepala sekolah” ibu.kepala dengan sangat emosi

*si.nenek gayung tertawa jahat mirip Fudo di film Bima Satria Garuda*

Kami ber-14 pun berjalan dengan sangat malas menuju ruang kepala sekolah. Ruang kepala sekolah waktu itu terasa sangat panas. Kami duduk berjejer-jejer. Ibu.kepala sekolah dan si.nenek gayung memasuki ruang kepala sekolah.

“Jadi, apa maksud kalian semua membolos tadi?” Bentak si.nenek gayung.

“hmmmmm lagi males aja bu” Jawab gue

“Males?”

“Iya bu.”

Sekitar 30 menit kami ber14 di ruangan super panas itu. Dan FIX besok orang tua kami semua di suruh ke sekolahan untuk menyelesaikan masalah ini. Sumpah, gue dan teman-teman takut setengah mati. Kami semua kompak, sama-sama nggak berani ngomong hal ini ke orang tua.

“Wah, bisa-bisa gue di gantung nih” Tomy sangat ketakutan.

“Iya, gue juga takut. Bisa-bisa gue disuruh ngemil obat nyamuk sama bokap” Gue juga sangat takut.

Dan, dengan sangat terpaksa. Kami semua memberanikan diri untuk mengadukan hal ini ke orang tua masing-masing.

Pagi berikutnya, ruang kepala sekolah dipenuhi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak dari anak kelas 5 SD yang mencoba nakal. Gue dan yang lainnya nggak bisa tenang di dalam kelas. Kami semua gelisah, takut terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Misalnya, 14 anak cowok yang kemarin 

membolos akan tidak naik kelas. Atau yang paling parah, semua cowok di kelas 5 akan dikeluarkan dari sekolah. Kan kampret banget kalau sampai terjadi kedua hal tersebut. Namun ternyata takdir berkata lain. Kami semua hanya mendapat hukuman untuk meminta maaf ke si.nenek gayung. Oke, kami semua meminta maaf.

“Bu, maafin tindakan kita yang kemarin yah.” Kami semua meminta maaf satu per satu.

“Iya, ibu maafin kok. Asal jangan diulangin” nenek gayung itu ngomong gitu.

Oke, sekarang kami semua terbebas dari semua masalah. Kami sujud syukur, dan menggelar syukuran di rumah gue. Kami semua berpesta, merayakan ke bebasan dari semua masalah.

Di sela-sela kesenangan, Dika salah satu teman gue yang tingkat keNAKALannya udah tingkat dewa mengajukan usul.

“Eh, gue punya rencana nih” Dika ngomong dengan gaya sok serius.

“Apaan dik?” Tanya Boni.

“Besok, gue mau ngelempar nenek gayung dengan ini nih” Dika ngeluarin beberapa kelereng.

“Hah, anjrit gila loe dik!” Gue kaget.

“Hahahahahahahah” Dika ketawa lepas.

*Kami semua melanjutkan pesta, sambil membayangkan tindakan Dika besok di kelas*

Keesokan harinya, Dika sudah siap dengan 1 butir kelereng di tangan. Gue dan teman-teman yang lain masih bingung hal gila apa yang akan dilakukan oleh Dika ke nenek gayung dengan sebutir kelereng tersebut. Jam pertama pagi itu adalah Matematika, pelajaran paling horror menurut gue. Disela-sela nenek gayung menulis soal-soal di papan tulis terdengar suara seperti ledakan kecil gitu.

“Toaaarrrr!!!!” Dika melempar kelereng tersebut ke papan tulis.

“Hah, siapa ini yang ngelempar kelereng?” Nenek gayung marah.

*Satu kelas hening*

Suasana di kelas waktu itu sangat mencekam. Dan tiba-tiba si.nenek gayung pergi meninggalkan kelas.

“Wah anjrit, gila loe emang dik!” Gue kagum.

“Anjing, gue takut banget kik!” Dika ketakutan

Selang beberapa menit, nenek gayung kembali ke kelas dengan menangis dan seperti biasa ibu.kepala sekolah juga ikutan marah. Gue dan teman-teman yang lain sangat amat takut waktu itu.

“Mampus, akan ada masalah besar nih kayaknya” Gue bicara dalam hati.

“Siapa,,,,, yang ngelempar bu.Suro pakai kelereng?” Ibu.kepala sekolah membentak.

Oiya, ibu.Suro adalah nama asli nenek gayung.

*Satu kelas masih hening*

“Yasudah kalau kalian nggak mau ngaku” Ibu.kepala sekolah masih membentak.

Kemudian, nenek gayung dan kepala sekolah pergi meninggalkan kelas.

3  jam berlalu, nenek gayung belum juga kembali ke kelas. Kami semua malah senang, karena ada banyak waktu untuk bercanda dan ngobrol-ngobrol di kelas.

*kepala sekolah memasuki ruang kelas*

“Anak-anak mulai sekarang guru pengajar kalian akan di ganti oleh Ibu.Dwi” Kepala sekolah ngomong dengan nada tenang.

“Yeaaaayyyyyyyy!!!!!!” 1 kelas berteriak.

Dengan kejadian digantinya guru pengajar, gue merasa misi gue dan teman-teman yang lain SUKSES untuk mengkudeta nenek gayung. Sakit hati gue sewaktu disuruh menyanyi di depan kelas oleh nenek gayung terbayar sudah. Kami semua bahagia, guru pengajar yang baru juga lebih baik. Lebih muda, nggak galak, suka ngasih hadiah juga. Wah, pokoknya beda banget lah sama nenek gayung. Dengan semua hal-hal itu, kami semua semangat untuk bersekolah.