Daftar Sekolah






Beberapa waktu lalu gue lulus dari SMP N 3 Temanggung, lumayan nilai rata-rata UN gue 8,5. Namun, gue bingung mau nerusin sekolah dimana. Sebelum pengumuman kelulusan sih ada beberapa sekolah yang promosi ke SMP gue. Menurut gue semua promosi yang dilakukan itu absurd banget. Kenapa? Iya, karena mereka semua hanya memberitahukan keadaan sekolah yang bagus-bagus aja. Misalnya gini:

‘Diruang sekolah kami, semua ruangan berAC. Nggak Cuma di ruang kelas, ruang BK, atau kantor guru saja yang berAC. Di sekolah kami WC pun juga berAC’

Sumpah itu adalah promosi sekolah paling absurd menurut gue. Emang anak-anak yang sekolah disitu cuma kepingin ngerasain ruangan berAC aja? Nggak kan! Kami juga perlu guru yang berpengalaman, fasilitas-fasilitas yang memadai, dan peraturan sekolah yang bagus supaya kami bisa menjadi siswa yang tertib. Dan kenapa, semua sekolah nggak memberitahukan kejelekan dari sekolahnya di setiap promosi. Kejelekan sekolah yang disampaikan ini sangat membantu, karena dari kejelekan kita para siswa dan orang tua bisa mempertimbangkannya.

Gue galau, bingung, sedih, TBC, batuk, ah pokoknya nggak enak banget lah rasanya. Gue mencoba bertanya ke mamah.

“Mah, lebih baik aku ngelanjutin sekolah dimana?” Tanya gue ke mamah.

“Ke SMA 1 aja kayak kakakmu, gimana?” Jawab mamah.

“Wah, tapi persyaratan di SMA 1 berat mah” Jawab gue dengan nada lemas.

“Oh, iya? Yaudah di SMA 2 aja!”

“Oke, aku siapin semua syarat-syaratnya dulu ya mah”

Kalau di SMA 1 itu nilai gue nggak nyampai aja pakai banget. SMA 1 itu sekolah SBI, Sekolah Bertaraf Internasional. Lumayan, nilai gue ini masih cukup untuk mendaftar di SMA 2 yang berlebel RSBI atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Gue sih sebenarnya nggak begitu masalah dengan lebel-lebel begituan. Karena, menurut gue semua sekolahan itu sama aja. Cuma, tergantung sama pribadi masing-masing aja. Mau niat atau nggak dia sekolahnya.

“Mah, semua syarat-syarat buat daftar di SMA 2 udah komplit nih”

“Bagus, besok pagi juga kamu daftar ya”

“Oke mah!”

Setelah percakapan singkat itu, gue SMS teman-teman yang juga akan mendaftar di SMA 2. Gue membuat rencana bersama untuk daftar sekolah bareng-bareng. Karena, menurut gue semua hal jika dikerjakan secara bersama-sama akan berhasil. Kayak kemarin waktu gue ulangan matematika, gue dan teman yang lain berkerja sama secara illegal. Dan apa, kami semua mendapat nilai 90. Terbukti kan teori gue itu.

Esok harinya, gue dijemput teman-teman dan kamipun berangkat menuju SMA 2 secara rame-rame. Gue sangat semangat dan optimis bakalan diterima di SMA 2. Kurang lebih 2 jam kami berada di SMA 2. Akhirnya, kami mendapat jadwal pendaftaran.

Hari pertama : Mengisi formulir pendaftaran

Hari kedua : Ujian masuk SMA (semua mata pelajaran)

Hari ketiga : Wawancara

Kurang lebih sih begitu jadwalnya. Gue dan teman-teman yang lain cemas nggak bisa ngerjain soal-soal ujian masuk besok.

“Eh guys, daripada ngegalau mikirin soal ujian masuk SMA besok kita main aja yuk?” Ajak Luna, salah satu teman gue.

“Nah, bener banget tuh kata Luna!” Jawab gue semangat.

Akhirnya, kita nongkrong dan makan-makan di alun-alun kota. Berjam-jam kita disana, waktu serasa berjalan dengan cepat jika kita sedang dengan orang-orang yang kita sayang itu emang bener. Kira-kira 3 jam kami berada di tempat itu. Jam tangan sudah menunjukan pukul 5 sore.

“Eh bro, udah sore nih pulang yuk?” Saut gue sambil berdiri

“Oke yuk, kita harus belajar juga buat ujian masuk SMA besok” Jawab Radit dengan semangat.

Kita semua beranjak pulang dengan penuh semangat dan optimis bisa sukses ngerjain soal-soal ujian masuk SMA.

Sesampainya dirumah, gue langsung mandi dan sedikit membaca-baca buku yang gue punya dan meringkas materi-materinya. Gue sangat ingin keterima di SMA 2, karena SMA ini termasuk sekolah favorit di kota gue.

Keesokan harinya, gue dan teman-teman berangkat ke sekolah bersama-sama seperti biasa. Jantung gue berdetak dengan sangat kencang, cemas jika soal-soalnya susah.

“Bro, kita harus semangat!” Luna member semangat.

“Iya, kita pasti bisa menghadapi soal-soal nanti.” Gue sok optimis.

Kami ber lima memasuki ruang tes, ruang tersebut terasa sangat panas. Suasananya horror banget lah pokoknya. Oiya, kebetulan kami 1 ruang tes. Jadi, enak bisa saling member semangat.

*guru pengawas ujian masuk SMA, memasuki ruang kelas*

“Selamat pagi anak-anak, sudah siap mengerjakan soal ini kan?” Seru salah seorang pengawas dengan nada horror.

“Pagi bu, iya kami siap” jawab anak-anak satu kelas dengan semangat.

Saat naskah soal dan lembar jawab di bagikan pengawas, gue semakin deg-degan dan keringat dingin pun keluar dari leher gue. Pada saat gue membuka nasakah soalnya, gue shock setengah mati karena tingkat soal-soalnya tingkat sea games. Sumpah, susah semua. Iya semua, iya semua.

*gue melihat raut wajah teman-teman gue*

Mereka semua terlihat tegang, mirip sama anak SD mau disunat.

Setelah 2 jam berada di ruangan super horror ini, bel tanda selesainya ujian masuk SMA ini pun berdering. Gue lega karena bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat, namun disisi lain gue cemas karena semua soal gue kerjain dengan cara asal-asalan sesuai dengan sedikit ilmu yang gue punya.

“Gimana bro, bisa nggak ngerjain soal-soal tadi?” Tanya gue ke teman-teman.

“Wah susah, ngerjain pakai cara silang indah aja hahahahah” Seru teman-teman.

Silang indah adalah cara termudah untuk mengerjakan soal yang berjenis pilihan ganda. Karena, dengan metode ini kita bisa membentuk gambar / kata-kata favorit kita di lembar jawab. Metode ini paling banyak digunakan oleh para pelajar bodoh tapi kreatif.

Setelah mengobrol beberapa menit, akhirnya gue dan teman-teman memutuskan untuk pulang ke rumah guna membuat otak kita ber lima menjadi normal kembali. Karena, gue merasakan otak yang memanas setelah mengerjakan soal horror di ruangan yang juga horror itu. Sesampainya di rumah, gue menyalakan TV dan menonton acara Master Chef. Gue suka banget nonton acara ini karena ada chef Marinka. Coba kalau nggak ada dia, pasti nggak akan gue tonton.

Besok adalah hari pengumuman di terima / tidaknya gue dan teman-teman di SMA N 2 Temanggung. Hari yang sukses membuat gue stress, dan mencret-mencret. Gue mencoba menenangkan diri dengan cara SMS ke Luna, salah satu sahabat gue yang juga mendaftarkan diri di SMA 2.

“Lun, gimana diterima/nggak ya kita?” Tanya gue cemas.

“Pasti diterima, tenang aja deh” Jawab Luna santai.

Jawaban luna itu membuat gue optimis, perasaan cemas gue akan pengumuman esok hari berkurang 1%. Gue membayangkan hal-hal keren yang bisa gue lakuin jika gue di terima di SMA itu. Semisal bisa ngecengin cewek-cewek SMA di sekolah itu, iyalah masak mau ngecengin cewek-cewek SMP --__-- menurut gue cewek-cewek yang mendaftar di SMA itu tingkat kecantikannya udah melebihi batas ketentuan. Gue agak cemas, bila gue nggak laku di SMA ini.

Keesokan harinya, dengan jantung yang berdetak kencang kami semua berangkat bersama untuk melihat pengumuman.

“Bro, gue deg-degan” ucap gue dengan mata melotot.

“Lu kenapa si, santai aja kali. Pasti diterima” jawab Radit, dengan gaya sok kerennya.

10 menit kami mengendarai motor, akhirnya sampai juga di TKP. Iya di SMA maksudnya. Kami semua melihat banyak kerumunan anak-anak SMP yang kampungan yang berebut melihat papan pengumuman. Menurut gue, berebut melihat sesuatu adalah hal paling kampungan.

“Bro, tuh liat anak-anak kampungan!” Ujar gue sambil menunjuk ke arah kerumunan.

“Iya ky, banyak juga ya anak kampungan yang daftar di sekolah ini” Jawab luna.

“Tapi kita nggak kan?” Tanya gue

“Nggak lah!” Jawab luna.

Setelah 20 menit kami melihat anak-anak kampungan dan mencela mereka semua. Akhirnya kerumunan itu mereda. Dengan gaya boyband kami semua berjalan bersama menuju papan pengumuman. Sesampainya di depan papan pengumuman kita semua melihat dengan seksama, sampai-sampai gue ngeluarin kaca pembesar gue yang udah gue siapin dari rumah. Sekitar 15 menit melihat pengumuman itu, akhirnya hasilnya memuaskan. GUE DITERIMA DI SMA NEGERI 2 TEMANGGUNG. Waktu itu tingkat keCAKEPan gue seketika meningkat. Namun, Luna + Radit tidak diterima. Hanya gue + Yudha yang diterima.

“Bro, Alhamdulillah gue + yudha diterima.” Ucap gue sambil menepuk pundak Yudha.

“Selamat ya bro” Jawab luna sambil menyalami gue + Yudha.

Waktu itu gue merasa bangga, karena gue nggak nyangka dengan otak yang tingkat intelegensinya kayak trenggiling ini gue masih bisa masuk di SMA favorit di kota gue ini. Namun gue juga bersedih, karena sahabat gue dari kelas 1 SMP Luna + Radit gagal masuk dan harus berpisah dengan gue + Yudha. Tapi, persahabatan kita tetap terikat walaupun kita berbeda sekolah. Karena, perbedaan bukan penghalang perSAHABATan.

15 comments